Selasa, 26 April 2011

Laporan PTK BAB II (Lanjutan)


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    PENGUASAAN MATEMATIKA SISWA MTsN KRIAN
Menurut PERMENDIKNAS NO. 20 Tahun 2007 tentang  Standar Penilaian Pendidikan, penilaian pendidikan dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik dalam pembelajaran. Penilaian harus dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis mengadakan ulangan harian secara periodik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) dalam bentuk tes.  Sedangkan teknik penilaian observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.  Namun hasil yang diperoleh masih belum memuaskan karena tingkat ketuntasan belajar siswa masih rendah, yaitu berkisar antara 50% sampai dengan 60%, sehingga masih perlu dilakukan pengajaran remidi, baik secara individu ataupun klasikal.
Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran juga masih rendah.  Pembelajaran matematika di kelas masih didominasi oleh guru sebagai pemeran utama (teacher centered).  Siswa  hanya duduk pasif sambil mendengarkan keterangan guru, memperhatikan cara menyelesaikan contoh soal yang diberikan guru, baru kemudian mengerjakan soal-soal latihan yang berkaitan dengan materi yang disampaikan.  Kondisi ini tidak akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk  mengkomunikasikan gagasan-gagasan dalam merancang penyelesaian masalah-masalah matematika dan menafsirkan solusi yang diperoleh.  Interaksi antar siswa dan antara siswa dan guru juga rendah.  Apalagi dengan jumlah siswa yang mencapai 48 sampai dengan 50 anak dalam satu kelas, menyebabkan guru tidak dapat melayani setiap individu secara maksimal.

B.     METODE TUTOR SEBAYA
Peer tutoring is the system of instruction in which learners help each other and learn by teaching. Peer tutoring involves students teaching other students in a given subject area and takes a variety of forms, including students actively assisting other students, both in small-group learning activities in tutorials. (Goodlad, S. and B. Hirst, 1989: 184).  Tutor sebaya adalah model pembelajaran dimana siswa saling membantu dan belajar dengan cara mengajar.  Tutor sebaya  melibatkan siswa secara aktif untuk mengajar teman sekelasnya dalam pelajaran tertentu, dalam hal ini matematika , dalam kelompok-kelompok kecil.
Menurut Winkel (1996:401), pengajaran tutor sebaya merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa atau beberapa siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor
Metode tutor sebaya dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi atau latihan kepada teman-temannya yang belum paham. (www.salman-alfarisi.com)
Dengan memperhatikan pengertian tutor sebaya, maka dapat
disimpulkan bahwa metode tutor sebaya ialah metode pembelajaran yang memanfaatkan siswa yang mempunyai keistimewaan, kepandaian dan kecakapan di dalam kelas untuk membantu memberi penjelasan, bimbingan dan arahan kepada siswa yang kepandaiannya agak kurang atau lambat dalam menerima pelajaran yang usianya hampir sama atau sekelas dalam kelompok-kelompok kecil dalam proses pembelajaran. 
Ischak dan Warji (dalam Suherman dkk, 2003: 276) mengemukakan bahwa tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya..
Selanjutnya Conny Semiawan dalam Suherman (2003:276) berpendapat bahwa tutor sebaya adalah siswa yang pandai memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan teman-teman di luar sekolah
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:29), disebut tutor sebaya karena yang menjadi tutor adalah siswa yang mempunyai umur atau usia yang hampir sama atau sebaya.  Istilah ini untuk membedakan “tutor serumah”, yaitu pengajaran yang dilakukan oleh orang tua, kakak, atau anggota keluarga yang lain yang bertempat tinggal serumah dengan siswa tersebut.  Selain itu dapat juga membedakan dengan tutor dilakukan yang dilakukan oleh staf pengajar.
Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.  Tutor tersebut diambil dari kelompok siswa yang memiliki prestasi yang lebih tinggi daripada siswa-siswa lainnyaTutor sebaya ini biasanya dipilih oleh guru atas dasar berbagai pertimbangan seperti siswa yang memiliki prestasi belajar yang baik dan hubungan sosial yang memadai.

C.     KELEBIHAN DAN KELEMAHAN METODE TUTOR SEBAYA.
Pemilihan metode tutor sebaya dipilih karena kebanyakan siswa lebih mudah menerima bantuan atau pengajaran dari teman-temannya daripada menerima bantuan atau pengajaran dari gurunya (Arikunto, 1992:62).  Siswa-siswa tersebut tidak merasa enggan atau rendah diri untuk bertanya atau meminta bantuan terhadap teman-temannya sendiri apalagi teman akrab.
Menurut Soekartawi (1995: 22), tutor sebaya ini ditunjuk oleh guru dengan memperhatikan syarat-syarat berikut:
1)      Menguasai bahan yang akan disampaikan atau ditutorkan.
2)      Mengetahui cara mengajarkan bahan tersebut.
3)      Memiliki hubungan emosional yang baik, bersahabat dan menjunjung situasi tutoring.
4)      Siswa yang berprestasi akan lebih menunjang pengajaran dengan metode ini karena siswa yang menjadi tutor tersebut akan lebih mempunyai rasa percaya diri.
Untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan
pertimbangan-pertimbangan sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Memiliki kepandaian lebih unggul daripada siswa lain
2)      Memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru.
3)      Mempunyai kesadaran untuk membantu teman lain
4)      Dapat diterima dan disenangi siswa yang mendapat program tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya dan rajin. 
5)      Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan. 
6)      Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya. 
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:29) berpendapat bahwa pembelajaran tutor sebaya mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Beberapa manfaat atau kelebihan tutor sebaya adalah:
1)      Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut  atau enggan terhadap gurunya.
2)      Bagi yang menjadi tutor, kegiatan tutoring ini akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang dibahas, dengan memberitahukan kepada siswa lain maka seolah-olah ia menelaah serta menghafalkan kembali.
3)      Bagi siswa yang menjadi tutor, kegiatan tutoring merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
4)      Mempercepat hubungan antara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
Kelemahan atau kesulitan metode tutor sebaya dapat disebutkan antara lain:
1)      Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan kawannya sehingga hasilnya kurang maksimal.
2)      Pada kelas-kelas tertentu metode ini sukar dilaksanakan karena perbedaan kelamin antar tutor dengan siswa yang diberi materi pelajaran.
3)      Bagi guru sukar untuk menentukan tutor yang tepat bagi seorang atau beberapa orang siswa yang dibimbing.
4)      Tidak semua siswa yang pandai atau cepat tempo belajarnya dapat mengajarkan kembali kepada kawan-kawannya.
Menurut Suryo dan Amin (1982:51), beberapa kelebihan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut. 
1)      Adanya suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
2)      Bagi tutor sendiri, kegiatan tutorial ini merupakan kesempatan untuk menambah pemahaman dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar. 
3)      Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu. Hal ini cocok untuk jumlah siswa yang besar dalam satu kelas.
4)      Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. 
Adapun kekurangan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut. 
1)      Siswa yang dipilih sebagai tutor dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan siswa yang dibantu.
2)      Siswa yang dipilih sebagai tutor belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.
Manfaat dari pelaksanaan pengajaran oleh teman sebaya bukan hanya dirasakan oleh tutor saja, tetapi juga menjadi penambah semangat bagi siswa yang dibimbingnya. Hasil penelitian Hakim dalam Zuchri (Setiawati, 2008, h. 11) menerangkan bahwa peran teman sebaya dapat menumbuhkan dan membangkitkan persaingan prestasi belajar secara sehat, karena siswa yang dijadikan pengajar atau tutor, eksistensinya diakui oleh teman sebaya.
Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan siswa itu sendiri. Dalam kegiatan ini mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan teman sebaya, mencari perannya sendiri, mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting, serta mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
Strategi tutor sebaya ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum paham. Strategi ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang dibimbing. Bagi tutor dengan membimbing atau mengajarkan suatu topik atau konsep kepada temannya, maka pengertian terhadap bahan itu  akan lebih mendalam dan mendapat kesempatan untuk pengayaan dalam belajar serta akan mendapat  pengalaman. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, sedangkan siswa yang dibimbing akan lebih mengerti karena bahasa siswa lebih dimengerti oleh temannya.
Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan strategi ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain. Sejalan dengan itu Natawidjaya dalam Zuchri (Setiawati, 2008, h. 11) mengatakan bahwa, bantuan belajar oleh tutor sebaya pada umumnya memberi hasil yang cukup baik, hubungan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain pada umumnya terasa lebih dekat dibandingkan dengan guru.
Dengan adanya tutor sebaya, siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas. Pertanyaan-pertanyaan yang segan untuk ditanyakan pada guru, akan bermunculan ketika siswa berhadapan dengan para tutornya.
Agar pelaksanaan pengajaran tutor sebaya dapat berlangsung secara efektif dan berhasil, guru perlu memperhatikan pemilihan petugas tutor sebaya dan pembentukan kelompok. Banyaknya petugas tutor disesuaikan dengan banyaknya siswa dalam kelas tersebut dan banyaknya siswa dalam tiap-tiap kelompok yang akan direncanakan.
Karena jumlah siswa ada 48 orang direncanakan tiap kelompok 5 atau 6 orang, maka petugas tutor sebaya ada 9 orang. Penentuan kelompok kecil  dengan anggota 5 – 6  orang, dengan dasar pemikiran bahwa makin banyak anggota kelompoknya, keefektifan, keefektifan belajar tiap anggota berkurang. Kesembilan petugas itu dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Kelompok-kelompok itu dapat dibentuk atas dasar minat dan latar belakang, pengalaman atau prestasi belajar. Kehangatan atau iklim kelompok yang baik dapat terbentuk berdasarkan adanya rasa persaudaraan antar anggota.

D.    KERANGKA BERFIKIR
Faktor  yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah penggunaan metode pembelajaran yang tepat.  Sejauh ini bahwa pembelajaran yang dilakukan di kelas kebanyakan menggunakan metode konvensional, sehingga anak lebih bersifat pasif.  Kebanyakan siswa akan merasa malu atau takut untuk aktif bertanya langsung kepada gurunya apabila dia mengalami kesulitan belajar.
Metode tutor sebaya merupakan salah satu metode yang diterapkan dalam mata pelajaran matematika, karena metode tutor sebaya dapat mengasah keterampilan sosial dalam diri siswa.  Siswa akan berlatih kecakapan berkomunikasi antar siswa, karena siswa akan lebih leluasa untuk bertanya tanpa ada perasaan malu, takut ataupun kesulitan akan penyampaian maksud yang ingin mereka sampaikan karena tutor mereka tak lain adalah teman mereka sendiri.  Pembelajaran ini sangat menekankan keaktifan siswa selama dalam menyampaikan materi pelajaran kepada teman-temannya. Sehingga jika siswa dapat membantu teman-temannya memahami materi dengan baik diharapkan hasil belajar matematika yang akan dicapai akan semakin meningkat.












Masalah :
·         Rendahnya prestasi belajar matematika siswa
·         Kurang nya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran matematika
 






Penyelesaian masalah:
·         Prestasi belajar matematika siswa meningkat
·         Siswa semakin aktif berpartisipasi dalam pembelajaran matematika

 





Gambar 2.1 Alur Kerangka Berpikir
 

 









E.     HIPOTESIS
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir tersebut di atas maka hipotesis yang dianjurkan dalam penelitian ini adalah:
“Metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar  dan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan lingkaran di kelas VIII B MTs Negeri Krian Sidoarjo tahun 2010”.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar